Apakah Kuliah 4 Tahun hanya Menunda Pengganguran?

Oleh: Sandri Wakil Presiden Mahasiswa IAIN SAS BABEL

Topik mengenai apakah kuliah 4 tahun hanya menunda pengangguran sering kali memicu diskusi yang hangat dan beragam di kalangan masyarakat, akademisi, dan praktisi dunia kerja. Untuk memahami lebih dalam permasalahan ini, kita perlu melihat beberapa aspek penting, yaitu kondisi pasar kerja, relevansi pendidikan tinggi, dan data statistik terkait pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi.

Pertama, kita harus mengakui bahwa kondisi pasar kerja saat ini sangat dinamis dan kompetitif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2023 adalah sekitar 5,23%, dengan lulusan perguruan tinggi (S1 dan diploma) menyumbang persentase yang signifikan dari angka tersebut. Namun, ada perbedaan mencolok antara pengangguran lulusan perguruan tinggi dan mereka yang hanya lulusan SMA atau SMK. Tingkat pengangguran untuk lulusan SMA cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi, yang menunjukkan bahwa meskipun ada pengangguran di kalangan lulusan S1, pendidikan tinggi tetap memberikan keunggulan kompetitif.

Selain itu, survei yang dilakukan oleh World Bank pada 2022 menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan keterampilan yang lebih khusus dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dalam berbagai industri.

Namun, penting untuk diakui bahwa tidak semua lulusan perguruan tinggi berhasil memasuki pasar kerja segera setelah lulus. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah kurangnya keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri, ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan dan tuntutan pasar kerja, serta persaingan yang ketat di antara lulusan itu sendiri. Menurut sebuah laporan dari McKinsey & Company pada 2021, sekitar 40% pengusaha di Indonesia merasa bahwa lulusan perguruan tinggi belum siap kerja, terutama dalam hal soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan kemampuan berpikir kritis.

Oleh karena itu, ada argumen yang mengatakan bahwa pendidikan tinggi empat tahun dapat dilihat sebagai periode transisi yang tidak sepenuhnya mempersiapkan individu untuk dunia kerja, tetapi lebih sebagai fase pengembangan diri dan penyesuaian dengan tuntutan pasar yang terus berubah. Dalam konteks ini, kuliah empat tahun mungkin bukan sekadar menunda pengangguran, melainkan memperpanjang periode pembelajaran untuk membekali lulusan dengan keterampilan yang lebih matang dan relevan.

Sebaliknya, ada juga pandangan optimis yang menilai pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang. Menurut data dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), tingkat pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi secara global lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan menengah. Hal ini menunjukkan bahwa, secara umum, pendidikan tinggi masih dianggap sebagai jalur yang lebih aman menuju kestabilan pekerjaan.

Dalam kesimpulannya, apakah kuliah empat tahun hanya menunda pengangguran tergantung pada berbagai faktor, termasuk kesiapan individu, relevansi kurikulum pendidikan, dan dinamika pasar kerja. Pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting dalam mempersiapkan individu untuk memasuki dunia kerja, meskipun tidak dapat dijamin bahwa setiap lulusan akan langsung mendapatkan pekerjaan. Peningkatan kualitas pendidikan, penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, dan pengembangan keterampilan yang relevan adalah langkah-langkah yang dapat membantu mengurangi pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi.