Menepis berita baru yang menggunakan foto kejadian lama ..

Laporan Jurnalis : Elpidius Oliver Celvin

Sanggau, Kalimantan Barat – Menyikapi pemberitaan segelintir  media online dengan judul dan narasi yang mengarah pada dugaan “  penampungan CPO dan kernel yang diduga ilegal di Desa Kebadu, Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat .kami menilai bahwa pemberitaan tersebut mengandung kesan  cenderung spektakuler, dan belum sepenuhnya menghadirkan konteks secara utuh dan berimbang kepada publik.

Elpidius yang juga wartawan di salah satu media mengatakan sebagaimana informasi yang berkembang dan diklarifikasi, lebih merupakan bentuk kepedulian personal dan solidaritas .sehingga menciptakan berita berimbang.

Saya mengapresiasi kawan kawan jurnalis dengan hal itu,namun pemberitaan publik merupakan bagian dari demokrasi yang sehat dan harus dihormati. Namun demikian, wajib disampaikan secara objektif, proporsional, dan berbasis fakta, bukan dengan cara membangun framing sepihak, manipulasi visual, atau narasi sugestif yang berpotensi menggiring opini publik .

Foto tertentu yang sengaja dijadikan foto unggulan oleh media online dengan foto lama tersebut tidak memiliki relevansi langsung dengan persoalan yang  diberitakan, bahkan secara faktual .

Lebih jauh lagi, foto tersebut merupakan dokumentasi lama , namun disajikan seolah-olah merupakan peristiwa aktual, sehingga berpotensi kuat menyesatkan publik dan membentuk asumsi keliru .

Tindakan semacam ini tidak dapat lagi dipandang sebagai kekeliruan teknis semata, melainkan patut diduga sebagai upaya pembentukan opini (malicious opinion) yang bertentangan dengan prinsip dasar jurnalistik, yakni akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan itikad baik Tuturnya.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya terkait kewajiban pers untuk memberitakan secara akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk;

Dengan demikian, kita saling mengingatkan sesama Profesi( Wartawan)  insan pers agar tetap menjaga marwah profesi jurnalistik sebagai pilar demokrasi, bukan justru menjadikannya sebagai alat pembunuhan karakter (character assassination) atau sarana pembentukan opini yang tidak bertanggung jawab.