Audiensi PT Tribaliv Green Solutions Dengan Gubernur Jawa Tengah Tentang Pengembangan Fasilitas Sea Plane Poert

Jurnalis : Mujiyanto

Semarang.- Audiensi PT Tribaliv Green Solutions Dengan Gubernur Jawa Tengah Tentang Pengembangan Fasilitas Sea Plane Poert berlangsung pada 30/3/2026.

CEO PT Tribaliv Green Solution, Trigo Neo Starden, menyampaikan peluang pengoperasian pesawat amfibi di wilayah pesisir Jawa Tengah. Menurutnya, “Pengembangan transportasi udara berbasis sea-plane tersebut berpotensi membuka 50–200 lapangan kerja, serta menarik investasi sekitar 2,9 juta dolar AS.

Rute yang dinilai potensial antara lain Semarang–Karimun dan Semarang–Tidung. Selain untuk angkutan penumpang, layanan ini juga dapat dimanfaatkan untuk evakuasi bencana dan kondisi darurat.

Untuk tahap awal, proyek ini membutuhkan investasi sekitar Rp. 49 miliar, dengan estimasi waktu implementasi dua tahun, mulai dari pendirian korporasi, sertifikasi Air Operator Certificate (AOC), hingga peluncuran komersial.

PT Tribaliv mengajukan permohonan kemitraan berupa Letter of Intent (LoI) dari gubernur, rekomendasi lokasi aerodrome perairan, koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta pertimbangan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Hasil kunjungan ke Jepara menunjukkan adanya potensi pengembangan sea-plane port.

Meski demikian, perusahaan menilai lokasi lain di Jawa Tengah, maupun kepulauan lain di Indonesia masih terbuka sebagai alternatif.

Secara teknis, lokasi yang diusulkan memiliki jarak 20–30 meter dari daratan dengan kedalaman air 2,5–3 meter.

Saat ini, konektivitas menuju kawasan kepulauan tersebut dilayani oleh kapal cepat Express Bahari, dengan waktu tempuh sekitar 2–2,5 jam, serta kapal Feri KMP Siginjai dengan waktu tempuh 4,5–5 jam.

Kapal Feri memiliki kapasitas sekitar 260 penumpang dan dapat mengangkut kendaraan.

Dengan penggunaan sea-plane, waktu tempuh diperkirakan hanya sekitar 25 menit dengan kapasitas 15–19 penumpang.

Selain itu, PT Tribaliv juga merencanakan pengembangan pusat pelatihan awak kapal pesiar guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja maritim, mulai dari deck officer, technical, hingga hospitality.

Persiapan pelatihan diperkirakan berlangsung selama enam bulan, mulai dari pembentukan badan hukum hingga pelaksanaan pelatihan.

Fasilitas pelatihan membutuhkan lahan sekitar 20 hektar, yang mencakup ruang kelas, workshop, dormitory, dan gedung administrasi.

Investasi awal untuk pembangunan fasilitas tersebut diperkirakan mencapai Rp.4,9 miliar dengan sumber pendanaan dari investasi swasta, kerja sama dengan cruise line, serta hibah pemerintah.

Perusahaan juga mengajukan persetujuan pendirian cruise ship crew training dan academy serta izin operasional lembaga kursus dan pelatihan maritim.

Sebagai referensi, tim mengacu pada Warsash Maritime Academy yang telah menerbitkan sekitar 857 ribu sertifikasi officer dan 170–190 ribu pembaruan sertifikasi, dengan potensi pendapatan mencapai 1,6 miliar dolar AS.

Jika mampu mengambil porsi sekitar 30 persen, potensi pendapatan diperkirakan mencapai 500–600 juta dolar AS.

Proyek ini ditujukan untuk memperkuat konektivitas pesisir, mendukung pariwisata regional, serta membuka peluang tenaga kerja maritim internasional, termasuk ke United Kingdom. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pengembangan sumber daya manusia sektor maritim”. Ungkapnya.

Sementara itu, menurut Gubernur Jawa Tengah, yang mendisposisikan audiensi ke Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, yang disampaikan Kepala Bidang Jaringan Transportasi dan Perkeretaapian, Joko Setyawan, dalam sambutannya menyatakan, “Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyambut positif inisiatif tersebut, dengan memberikan dukungan berupa kemudahan dalam proses perizinan.

Namun, implementasi proyek tetap harus melalui kajian teknis komprehensif, memenuhi regulasi yang berlaku, serta memperhatikan aspek lingkungan sebelum direalisasikan”. Pungkasnya.