Laporan Redaksi :windu
Jakarta , Pos Berita Nasional Grup — Sosok ulama sederhana asal Kudus, Mbah Riyan, yang dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi, menjadi perhatian publik setelah namanya disebut sebagai salah satu penerima MUI Awards 2026.
Di balik kehidupannya yang jauh dari gemerlap popularitas, Mbah Riyan menyimpan kiprah intelektual yang tidak banyak diketahui masyarakat. Ia dikenal menjalani kehidupan sederhana dan bekerja sebagai tukang bangunan, namun di tengah kesehariannya tersebut ia tekun mendalami khazanah keilmuan Islam, khususnya karya-karya ulama Nusantara.
Kabar mengenai sosok Mbah Riyan tersebut mendapat perhatian dari Ketua Umum Indonesia Journalist Community (IJC) Center, Bambang Wijayadi, yang mengaku kagum dengan pribadi ulama tersebut.
Menurut Bambang, kisah Mbah Riyan memberikan gambaran bahwa ukuran keilmuan dan kontribusi seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan, jabatan, maupun popularitas di tengah masyarakat.

“Saya sangat kagum dengan sosok Mbah Riyan. Beliau menunjukkan bahwa seorang yang memiliki ilmu dan kontribusi besar tidak harus tampil di depan. Justru kesederhanaan dan kerendahan hatinya menjadi sesuatu yang sangat menginspirasi,” ujar Bambang.
Tekun Menghidupkan Kembali Karya Ulama Nusantara
Mbah Riyan disebut mendapat penghargaan karena dedikasinya dalam mentahkik, menyunting, meneliti, dan mengkaji kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara yang memiliki nilai keilmuan tinggi.
Kegiatan tahkik bukanlah pekerjaan sederhana. Dibutuhkan ketelitian dalam membandingkan berbagai naskah, membaca teks klasik, menelusuri sumber rujukan, serta memastikan keakuratan isi sebuah karya sebelum dapat dikaji dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Dedikasi tersebut menjadi semakin menarik karena dilakukan oleh sosok yang dalam kehidupan sehari-hari justru dikenal sederhana dan tidak menjadikan aktivitas keilmuannya sebagai ajang mencari popularitas.
Karya dan pengabdiannya bahkan disebut memiliki nilai penting dalam memperkenalkan kembali khazanah keilmuan ulama Nusantara yang memiliki jejak hingga tingkat internasional.
Disebut Sosok Al-Mastur
Salah satu hal yang kemudian membuat kisah Mbah Riyan semakin menarik perhatian adalah sikapnya yang disebut sebagai al-mastur, yakni pribadi yang tidak suka menampakkan keistimewaan atau kelebihan dirinya kepada orang lain.
Bahkan, menurut narasi yang beredar, ketika diundang untuk menerima penghargaan, Mbah Riyan memilih tidak hadir.
Sikap tersebut dipandang sebagai bentuk tawadu dan kezuhudan, sekaligus menunjukkan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama dari perjalanan keilmuannya.
Bagi sebagian orang, keputusan tersebut justru menjadi bagian paling menarik dari sosok Mbah Riyan. Ketika banyak orang berlomba mendapatkan pengakuan, ia justru memilih tetap berada di balik layar dan melanjutkan aktivitas keilmuannya.
Keteladanan di Tengah Era Popularitas
Bambang Wijayadi menilai kisah Mbah Riyan memiliki pesan penting bagi generasi saat ini.
Menurutnya, di tengah era digital ketika popularitas sering kali menjadi ukuran keberhasilan seseorang, masih ada sosok yang memilih berkarya dalam kesunyian tanpa mengejar sorotan publik.
“Mbah Riyan memberikan pelajaran bahwa ilmu tidak selalu harus disertai popularitas. Ada orang-orang yang bekerja dalam kesunyian, tetapi hasil pemikirannya dapat memberikan manfaat besar bagi banyak orang,” katanya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal dan menghargai para ulama serta intelektual yang terus menjaga warisan keilmuan Nusantara.
“Kita jangan sampai hanya mengenal tokoh yang viral karena tampil di media. Ada banyak sosok ulama dan intelektual yang mungkin tidak terkenal, tetapi karya dan pengabdiannya sangat besar. Mbah Riyan adalah salah satu sosok yang patut menjadi inspirasi,” pungkasnya.
Kisah Mbah Riyan pun menjadi pengingat bahwa kesederhanaan tidak selalu berarti keterbatasan, dan ketenaran bukan ukuran utama dari besarnya kontribusi seseorang. Di balik kehidupan seorang tukang bangunan yang tampak sederhana, ternyata tersimpan ketekunan seorang intelektual yang ikut merawat warisan keilmuan Islam Nusantara.
— Redaksi Pos Berita Nasional —
