Debu Aktivitas Tambang Boksit Keluhkan Warga Desa Bhakti Jaya, PT MPN Diminta Segera Ambil Tindakan

Laporan Jurnalsi : Oliver Celvin Wangge

DESA BHAKTI JAYA, 10 September 2026 — Kondisi lingkungan di sekitar Desa Bhakti Jaya dalam beberapa bulan terakhir dikeluhkan warga. Memasuki puncak musim kemarau yang kemudian diperparah oleh kondisi asap, kabut, serta debu, aktivitas kendaraan operasional tambang boksit yang melintasi akses jalan desa disebut semakin menambah beban masyarakat.

Warga mengeluhkan debu yang beterbangan akibat lalu-lalang kendaraan operasional tambang, termasuk kendaraan jenis light vehicle (LV), maupun kendaraan dan unit yang disebut bekerja sama dengan PT MPN. Debu dari aktivitas kendaraan tersebut disebut masuk hingga ke lingkungan dan rumah-rumah warga.

Persoalan tersebut, menurut informasi yang dihimpun, sebelumnya telah disampaikan melalui pendekatan secara baik-baik agar dilakukan penyiraman secara rutin di wilayah Desa Bhakti Jaya. Namun hingga berita ini diturunkan, warga mengaku belum mendapatkan dukungan penyiraman yang dianggap memadai dari pihak perusahaan.

Kondisi tersebut menjadi semakin memprihatinkan karena masyarakat saat ini juga menghadapi kondisi udara yang dipengaruhi asap dan kabut.

Warga Pertanyakan Komitmen Penyiraman

Salah seorang jurnalis yang melakukan penelusuran terkait persoalan tersebut, Elpidius Oliver Celvin Wangge, disebut telah meminta bantuan kepada pihak PT MPN agar dilakukan penyiraman di wilayah Desa Bhakti Jaya.

Namun, pihak perusahaan disebut memberikan jawaban bahwa saat ini masih dalam proses penambahan unit tangki penyiraman.

Persoalannya, hingga 10 September 2026, warga menyebut penyiraman yang diharapkan belum juga terlaksana secara maksimal di wilayah Desa Bhakti Jaya.

“Sudah dilakukan pendekatan secara baik-baik. Masyarakat hanya meminta agar akses yang dilalui kendaraan operasional tambang dilakukan penyiraman karena debunya sangat mengganggu warga,” demikian keluhan yang dihimpun dari masyarakat.

Penyiraman Disebut Lebih Banyak di Jalan Hauling

Berdasarkan penelusuran jurnalis di lapangan, aktivitas penyiraman disebut lebih banyak dilakukan pada jalur hauling dan sejumlah titik tertentu di wilayah Desa Boyan, seperti Kampung Baru, Cempaka, dan Empurau.

Sementara itu, jalur mining yang disebut memiliki jarak relatif dekat dengan Desa Bhakti Jaya justru dipertanyakan karena tidak mendapatkan penyiraman yang dianggap cukup.

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena debu dari kendaraan yang melintas berpotensi terbawa angin menuju permukiman masyarakat.

Lebih jauh, penyiraman jalan-jalan di wilayah Desa Bhakti Jaya sendiri juga disebut belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Hanya Tiga Unit Tangki Penyiraman?

Dalam penelusuran yang dilakukan Elpidius Oliver Celvin Wangge, pengelolaan penyiraman disebut ditangani oleh kontraktor PT RTI.

Operasional penyiraman disebut berlangsung sekitar pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Namun, dengan jumlah armada yang disebut hanya sekitar tiga unit tangki penyiraman, muncul pertanyaan apakah kapasitas tersebut cukup untuk menangani seluruh jalur operasional tambang sekaligus akses yang bersinggungan dengan permukiman warga.

Keterbatasan armada penyiraman tersebut juga menjadi salah satu persoalan yang perlu dijelaskan secara terbuka oleh pihak perusahaan.

Pasalnya, aktivitas pertambangan dan mobilisasi kendaraan disebut tetap berlangsung, sementara masyarakat di sekitar lokasi berharap adanya langkah konkret untuk mengurangi dampak debu.