Laporan Jurnalis : Dody Saputra
MUNTAI, BENGKALIS — Sekelompok anak muda bersama tokoh masyarakat Desa Muntai menginisiasi gerakan pendidikan berbasis masjid melalui program pembelajaran Bahasa Inggris yang kemudian melahirkan sebuah komunitas bernama Hasanah Learning Community (HLC).
Berpusat di Masjid Hasanah, gerakan ini membawa gagasan untuk memperluas fungsi masjid, bukan hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga sebagai ruang belajar dan aktivitas positif bagi generasi muda.
Melalui program ini, anak-anak usia sekolah dasar dan menengah mendapatkan kesempatan untuk belajar Bahasa Inggris dalam lingkungan yang terbuka dan terarah. Program Batch 1 telah diselenggarakan selama tujuh pertemuan, mulai dari proses pembelajaran hingga pelaksanaan Final Examination sebagai evaluasi akhir peserta. Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan Closing Program Batch 1 yang dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi, semangat, dan proses belajar yang telah mereka lalui.
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun budaya belajar sekaligus menghadirkan aktivitas pendidikan yang tumbuh dari lingkungan masyarakat desa.

H. Rajab Selamat, M.A., Ketua DKM Masjid Hasanah sekaligus Penasihat Hasanah Learning Community, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, masjid memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan masyarakat, sebagaimana fungsi masjid dalam sejarah peradaban Islam.
“Masjid sejak dahulu bukan hanya menjadi tempat umat melaksanakan ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pembinaan umat. Saya sangat mendukung inisiatif anak-anak muda ini. Kita ingin masjid menjadi tempat yang dirindukan generasi muda, tempat mereka belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan,” tuturnya.
Ia berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
Di balik pengembangan program tersebut, Muhammad Kasyful Asror selaku General Secretary Hasanah Learning Community mengambil peran dalam membangun fondasi operasional komunitas. Mulai dari merancang sistem pembelajaran, menyusun kurikulum, membangun kelas, menjadi tutor, hingga mengelola administrasi program.
Kasyful Asror menjelaskan bahwa program Bahasa Inggris merupakan langkah awal dari visi yang lebih luas, yakni membangun ekosistem pendidikan yang tumbuh dari masyarakat desa.
“Kami percaya bahwa anak-anak di desa juga memiliki potensi besar dan berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Pendidikan dan ruang belajar yang berkualitas seharusnya tidak hanya dapat diakses oleh mereka yang berada di perkotaan,” ungkapnya.
Menurutnya, tujuan komunitas tidak berhenti pada kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga membangun budaya belajar, menumbuhkan kepercayaan diri, membentuk karakter, dan memperluas wawasan generasi muda.
“Kami ingin membuktikan bahwa dari desa, dari masjid, kita juga bisa memulai sesuatu yang memberikan dampak bagi masa depan generasi. Ini bukan sekadar tentang membuat kelas belajar, tetapi tentang membangun ekosistem pendidikan yang tumbuh dari masyarakat sendiri,” jelas Kasyful Asror.
Sementara itu, H. Rusdi selaku Executive Director Hasanah Learning Community menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan gerakan melalui kolaborasi dan tata kelola komunitas yang baik.
“Anak-anak muda sudah menunjukkan kepedulian dan mengambil langkah nyata untuk menghadirkan kegiatan positif di lingkungan masjid. Ini merupakan semangat yang harus kita jaga bersama. Sebuah komunitas tidak cukup hanya dibangun dengan semangat, tetapi juga membutuhkan komitmen, kebersamaan, dan pengelolaan yang baik,” ujarnya.
Ia berharap Hasanah Learning Community dapat berkembang menjadi wadah pendidikan dan sosial yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda Desa Muntai.
Kehadiran Hasanah Learning Community menjadi salah satu ikhtiar masyarakat Desa Muntai dalam membangun sumber daya manusia dari lingkungan sendiri. Melalui kolaborasi pemuda, tokoh masyarakat, dan pengurus masjid, gerakan ini diharapkan menjadi awal tumbuhnya budaya belajar dan pembinaan generasi yang berkelanjutan.
Terlaksananya tujuh pertemuan Batch 1 menjadi langkah awal sekaligus bukti bahwa gerakan pendidikan berbasis masyarakat dapat dimulai dari lingkungan desa. Penutupan program bukanlah akhir dari perjalanan Hasanah Learning Community, melainkan awal untuk membangun komunitas yang lebih terstruktur, memperluas jangkauan pembelajaran, dan menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.
Sebab, membangun generasi masa depan tidak harus menunggu dari kota. Ia bisa dimulai dari desa, dari lingkungan masyarakat, bahkan dari sebuah masjid.
Dari Masjid, Kita Menanam Ilmu. Dari Ilmu, Kita Menumbuhkan Generasi. Dari Generasi, Kita Membangun Peradaban.
Hasanah Learning Community Learn Together, Grow Together.
