LAMR Bengkalis Terima Kunjungan Mahasiswa MKWK Polbeng, Bahas Kajian Budaya Permainan Rakyat

Laporan Jurnalis : Dody Saputra

Bengkalis – Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis menerima kunjungan mahasiswa yang tergabung dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) dalam rangka diskusi budaya permainan rakyat, pada kegiatan yang berlangsung di Balai Adat LAMR Bengkalis.

Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran berbasis proyek MKWK yang bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai budaya lokal, khususnya permainan tradisional sebagai warisan kearifan lokal masyarakat Melayu.

Dalam kunjungan tersebut mahasiswa diterima langsung oleh pengurus LAMR Bengkalis di antaranya Dt.Defitri Akbar ketua MKA LAMR Bengkalis, Dt.Khairul Saleh Sekretaris DPH LAMR Bengkalis,Dt.Irmanyah bidang pelestarian dan pembinaan seni Melayu, Dt.Ariyansyah Putra bidang pelestarian adat dan nilai budaya.

Dalam pertemuan tersebut, ketua kelompok MKWK Almin dari Teknik Mesin Produksi dan Perawatan yang memulai menyampaikan maksud dan tujuan berkunjung bahwa kami mahasiswa yang tergabung dalam program Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) ingin mengetahui secara detail filosofi yang terkait berbagai permainan rakyat yang pernah hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bengkalis, serta bagaimana nilai-nilai edukatif, sosial, dan kebersamaan terkandung di dalamnya.

Setelah kami dapat Gambaran tentang beberapa hal permainan rakayat,kami berencana akan mengadakan kegiatan untuk memperkenalkan apa saja permainan rakyat yang di lakukan oleh Masyarakat kita terdahulu,agar ini tidak hilang.

Kemudian Khairul Saleh sebagai Dosen Pembimbing menyampaikan bahwa model pembelajaran MKWK saat ini lebih interaktif. banyak kampus menerapkan sistem MKWK Berbasis Proyek (Project-Based Learning).

Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dikelompokkan bersama untuk menyelesaikan suatu proyek atau masalah sosial, sehingga nilai-nilai Pancasila dan kewarganegaraan bisa dipraktikkan langsung di lingkungan Masyarakat termasuk juga di dalamnya mata kuliah Pendidikan Agama dan Bahasa Indonesia.

Lanjut atah sapaan pak dosen ini yang juga pengurus LAMR bengkalis pada semester ganjil kemaren kita focus program MKWK nya kepada Lingkungan Hidup,untuk semester ini kita lebih pada program yang mengarah pada adat dan budaya adat 4 tema yang kita arahkan untuk di lakukan oleh mahasiswa antara lain ; Proyek Digitalisasi UMKM dan destinasi wisata pulau Bengkalis ; Podcast “Akademika Bicara” membahas berbagai isu aktual dg narasumber kompeten (moderasi beragama, bullying, toleransi, budaya, lingkungan dll) ; Parade Budaya Nusantara untuk dijadikan even budaya tahunan Kabupaten Bengkalis ; Exebition permainan rakyat dan nilai – nilai kearifan yg terkandung di dalamnya.

Perwakilan LAMR Bengkalis DT Defitri Akbar Ketua MKA menyambut baik kegiatan tersebut dan memberikan apresiasi kepada mahasiswa Polbeng yang dinilai turut berperan aktif dalam upaya pelestarian budaya daerah. LAMR juga menegaskan pentingnya dokumentasi dan revitalisasi permainan rakyat agar tidak hilang di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi.

Selain itu, LAMR berharap hasil diskusi hari ini yang dilakukan mahasiswa dapat menjadi bahan edukasi bagi generasi muda serta dapat dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk publikasi, dokumentasi digital, maupun kegiatan pelestarian budaya di masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi antara mahasiswa dan pemangku adat untuk menggali lebih dalam nilai-nilai budaya Melayu yang terkandung dalam permainan tradisional, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga adat.

Selanjutanya mahasiswa banyak melontarkan pertanyaan dan diskusi berlanjut yang langsung di jawab oleh dua narasumber yaitu Dt.Irmanyah bidang pelestarian dan pembinaan seni Melayu, Dt.Ariyansyah Putra bidang pelestarian adat dan nilai budaya.
Menurut Dt Putra yang kuat dengan budaya Melayu pesisir—permainan rakyat tradisional dulu sangat lekat dengan kehidupan anak-anak di kampung, terutama di halaman rumah, kebun, atau lapangan terbuka. Banyak di antaranya juga dikenal luas di Riau dan wilayah Melayu lainnya.

Gasing Permainan memutar gasing dari kayu dengan tali. Di Bengkalis, gasing bukan sekadar permainan, tapi juga sering jadi ajang adu keterampilan dan ketangkasan antar kampung.Engklek dikenal juga sebagai di beberapa daerah. Anak-anak melompat di atas kotak-kotak yang digambar di tanah menggunakan pecahan genting atau batu kecil.Galah Panjang permainan beregu yang mengandalkan strategi. Satu tim menjaga garis “galah”, sementara tim lain mencoba menerobos tanpa tersentuh.Congkak permainan tradisional Melayu menggunakan papan berlubang dan biji-bijian. Melatih strategi, hitung cepat, dan kesabaran.Benteng permainan kejar-kejaran antar dua kelompok.

Tujuannya merebut “benteng” lawan sambil menghindari tertangkap.ungkapnya
Kemudian datuk Irmansyah atau Dt Nanang coba menjelaskan tentang permainan layang-layang yang sangat populer di wilayah pesisir seperti Bengkalis karena angin laut yang mendukung. Biasanya dimainkan di lapangan atau tepi pantai.

Sorok-sorokan (petak umpet)atau cop benteng,versi lokal dari petak umpet, dimainkan di antara rumah, kebun, atau area kampung.

Di daerah seperti Bengkalis, permainan-permainan ini bukan hanya hiburan, tapi juga bagian dari pembentukan karakter anak—melatih kerja sama, ketangkasan, dan interaksi sosial tanpa
Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal semakin meningkat, serta permainan rakyat tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya Melayu di Kabupaten Bengkalis.