Menolak Menjadi ‘Putri’ Konvensional: Menyoroti Fluiditas Gender Film Brave (2012) dalam Konteks LGBTQ+ di Indonesia

Oleh:Tiara Indriati English Literature Department, Bangka Belitung University

Rilisnya film animasi Disney Brave pada tahun 2012, terjadi pergeseran besar dalam cara media menggambarkan sosok perempuan. Tokoh utamanya, Merida, tidak seperti karakter princess Disney tradisional yang anggun, lemah lembut, dan membutuhkan pertolongan pangeran. Sebaliknya, Merida digambarkan berambut merah acak-acakan, jago memanah, berani bertarung, dan secara tegas menolak perjodohan demi menentukan pilihannya sendiri. Dilihat dari studi gender, tindakan Merida yang menentang tradisi patriarki yang mana perempuan sering terjebak dalam stereotip domestik. Dituntut menjadi sosok yang cantik secara visual, lemah lembut, secara emosional, sementara laki-laki superior yang kuat dan memimpin.

Dari sudut pandang Judith Butler, gender bukanlah sebuah identitas biologis yang stabil atau kodrat yang tidak bisa diubah. Sebaliknya, gender dibentuk oleh tindakan, gaya berjalan, cara berpakaian, dan perilaku yang diulang-ulang secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Merida membuktikan hal ini dengan menampilkan performativitas maskulin seperti bertarung, memanah di ruang publik yang biasanya hanya dikuasai oleh laki-laki.

Jika kita membawa narasi pembebasan identitas dan fluiditas gender ini ke ruang publik Indonesia saat ini, situasinya akan menjadi lebih rumit. Di Indonesia, setiap wacana yang mengusik batasan gender tradisional terutama yang berkaitan dengan fenomena LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer) akan langsung berhadapan dengan tembok tebal otoritas keagamaan, budaya, dan norma hukum.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditegaskan pernikahan hanya terjadi antara seorang pria dan seorang wanita. Konsensus keagamaan arus utama memandang identitas di luar heteronormatif sebagai bentuk penyakit sosial, pelanggaran terhadap fitrah manusia, atau bagian dari ‘perang proksi’ kebudayaan asing yang merusak moral bangsa. Akibatnya, individu yang mencoba mengekspresikan fluiditas gender di Indonesia sering kali mengalami pengucilan sosial yang berat.

Keterkaitan antara perlawanan Merida dan gerakan minoritas gender di Indonesia terletak pada strategi bertahan hidup mereka. Merida tidak menghancurkan kerajaannya, ia bernegosiasi dengan ibunya untuk mengubah cara pandang tradisi. Hal serupa terjadi pada komunitas LGBTQ+ di Indonesia, khususnya kelompok Muslim queer. Berbeda dengan kaum homoseksual di Barat yang mungkin memilih keluar dari agama (coming out) demi kebebasan individu, kaum minoritas gender di Indonesia banyak yang memilih jalan negosiasi dan rekonsiliasi keimanan.

Contoh nyata seperti keberadaan Pesantren Waria Al-Fatah di Yogyakarta menunjukkan bahwa subjek queer di Indonesia tidak melihat agama sebagai penjara. Meskipun menghadapi tantangan fisik dan penolakan keras dari kelompok konservatif, mereka secara aktif membangun apa yang disebut sebagai ‘agensi religius queer’ (queer religious agency). Mereka tetap salat, mengaji, berpuasa, dan menjalankan ritual ziarah lokal. Bagi mereka, seksualitas dan keimanan bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua dimensi kehidupan yang dinegosiasikan secara kreatif untuk mencari ketenangan spiritual langsung di hadapan Tuhan.

Melalui tokoh Merida dalam film Brave, kita diajarkan bahwa keberanian sejati berasal dari kemampuan mendengarkan suara hati dan menolak batasan-batasan kaku yang mengikat kita. Di Indonesia, ruang publik tidak bisa menggunakan mentah-mentah teori queer Barat yang sekuler. Kita membutuhkan pendekatan yang peka terhadap nilai agama, di mana prinsip kasih sayang (rahmah) dan martabat kemanusiaan dijadikan jembatan agar setiap warga negara dapat hidup aman tanpa ketakutan dan diskriminasi.

Referensi
Hapsari, L., Safitri, D., & Sujarwo. (2025). Pemahaman masyarakat terhadap LGBT: Tinjauan literatur atas perubahan sosial dan dinamika opini publik. Triwikrama: Jurnal Multidisiplin Ilmu Sosial, 9(10).

Luhtitianti, U. A. R. (2026). Queer Theory Dan Islam Dalam Masyarakat Muslim Indonesia: Tinjauan Literatur Terhadap Representasi Gender Dan Seksualitas. Jurnal Neo Societal, 11(1), 29-51.
Nafisah, D., & Wulandari, B. (2022). Bentuk Ketidaksetaraan Gender Tokoh Merida Dalam Film Brave (Kajian Feminisme). Prosiding SAMASTA (Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia), 149-158.

Utami, M., Siwi, E. J., & Suryani, R. W. (2022). Teori Performativitas Judith Butler Dalam Tokoh Utama Film Animasi Disney Pixar “Brave”. ARTCHIVE: Indonesia Journal of Visual Art and Design, 3(2), 113-137.