Respons Cepat BPJN Babel Atasi Kerusakan Ruas Air Bara–Toboali, Kondisi Jalan Dipastikan Aman Enam Bulan

Laporan PN/BM

PANGKALPINANG,POSBERNAS – Ruas Jalan Nasional Air Bara–Toboali KM 110+750 di Desa Bikang, Kabupaten Bangka Selatan, menjadi sorotan publik setelah muncul kerusakan berupa retakan memanjang (longitudinal cracks) dan deformasi permukaan jalan yang bergelombang. Ironisnya, ruas tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan jalan yang baru rampung melalui skema Multi Years Contract (MYC) 2022–2024.

Munculnya kerusakan pada jalan yang belum lama selesai dibangun memunculkan pertanyaan mengenai kualitas konstruksi serta daya tahan infrastruktur yang menelan anggaran besar tersebut. Menanggapi sorotan itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bangka Belitung memastikan telah melakukan langkah cepat untuk mengamankan kondisi jalan dan menjaga keselamatan pengguna.

Kepala BPJN Bangka Belitung, Susan Novellia, menegaskan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini bersifat darurat dan tidak bisa ditunda.

“Untuk penanganan sementara yang kita lakukan ini memang sifatnya darurat. Artinya, untuk kejadian luar biasa di badan jalan ini harus segera ditangani dan tidak bisa ditunda,” ujar Susan saat kegiatan Penyampaian Kegiatan Komunikasi Publik di Auditorium BPJN Babel, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, kerusakan pada badan jalan harus diperlakukan sama seperti kejadian longsor maupun munculnya lubang besar yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.

“Sama seperti mungkin jalanan longsor ataupun lubang yang bisa mengganggu keselamatan pengguna jalan, itu kita tetap harus segera respon cepat untuk segera menanganinya,” katanya.

Susan menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama BPJN Babel.

“Kita berkomitmen untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan keselamatan pengguna jalan,” tegasnya.

Meski demikian, BPJN mengakui bahwa penanganan permanen masih menunggu hasil evaluasi teknis yang lebih mendalam. Berdasarkan perhitungan sementara, kondisi jalan yang telah diperbaiki saat ini diperkirakan masih aman digunakan dalam enam bulan ke depan.

“Untuk dalam hal ini kami estimasi sekitar enam bulan itu masih aman, namun untuk penanganan permanen, kami melaporkan kembali kepada pimpinan dan pihak yang memberikan pendampingan,” jelas Susan.

Ia menambahkan, tim dari Balai Teknik Jalan, Jembatan dan Terowongan akan melakukan kajian komprehensif guna mengungkap penyebab utama kerusakan tersebut.

“Evaluasi dari Balai Teknik dan Terowongan Struktur akan mengkaji lebih mendalam terkait desain, faktor alam, hingga penyebab kerusakan lainnya,” ujarnya.

BPJN juga menduga tingginya lalu lintas kendaraan bertonase besar di koridor Namang–Koba–Toboali–Sadai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kerusakan.

“Sementara ini kami bisa deteksi, kendaraan di Namang-Koba-Toboali-Sadai ini memang kendaraan dengan tonase besar. Jadi mungkin dari faktor kendaraan yang melintas harian dengan rata-rata kendaraan besar pada jalan tersebut menjadi penyumbang atau kontribusi terhadap kondisi ruas jalan,” ungkapnya.

Terkait kemungkinan evaluasi terhadap kontraktor pelaksana, Susan menjelaskan bahwa pemerintah memiliki sistem penilaian yang objektif melalui Sistem Informasi Kinerja Penyedia (SIKaP) yang dikelola Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR.

“Sebagai pimpinan di sini, melihat kinerja kontraktor itu sebenarnya kita ada penilaian yang cukup fair. Dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi ada aplikasi bernama SIKaP yang mengelola profil, kualifikasi, dan rekam jejak kinerja kontraktor maupun konsultan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Bangka Belitung, I Ketut Payun Astapa, menyampaikan bahwa laporan dari masyarakat dan temuan di lapangan menjadi dasar percepatan penanganan.

“Kami dari BPJN Babel mengucapkan terima kasih atas masukan dan informasi dari pimpinan maupun teman-teman di lapangan. Karena kami tidak setiap hari berada di lokasi, informasi tersebut sangat membantu sehingga pada 18 Juni 2026 kemarin kami langsung melaksanakan perbaikan sementara,” katanya.

Menurut Payun, langkah cepat tersebut berhasil menghilangkan retakan yang muncul dan membuat kondisi jalan kembali aman dilalui masyarakat.

“Meskipun masih bersifat sementara, kami nilai sudah tertangani. Retakan jalan sudah tidak ada lagi dan masyarakat yang melintas di daerah tersebut sudah aman,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa proyek ruas jalan tersebut bukan proyek konstruksi biasa. Lokasi pembangunan berada di kawasan rawa dengan karakteristik tanah yang cukup kompleks sehingga memerlukan teknologi konstruksi khusus.

“Sebenarnya paket ini merupakan paket khusus karena menggunakan teknologi khusus. Kondisi tanah di lokasi tersebut berbeda. Di wilayah Bikang dan Jeriji itu merupakan kawasan rawa-rawa, sehingga diperlukan teknologi baru untuk melakukan perbaikan dan pembangunan jalan di lokasi tersebut,” jelas Payun.