‎HIV, TBC hingga Malaria Jadi Perhatian, Pemkot Pangkalpinang Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Laporan Alpian

‎
‎PANGKALPINANG,POSBERNAS – Kota Pangkalpinang menjadi daerah dengan jumlah kasus baru HIV tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan penyakit menular melalui kolaborasi lintas sektor.
‎
‎Berdasarkan data kasus HIV baru di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang mencatat 121 kasus pada 2024. Jumlah tersebut meningkat menjadi 133 kasus pada 2025.
‎
‎Sementara itu, hingga September 2026, tercatat sebanyak 88 kasus baru HIV di Pangkalpinang dari total 198 kasus di seluruh wilayah Babel. Artinya, sekitar 44,4 persen kasus HIV baru di tingkat provinsi berasal dari Kota Pangkalpinang.
‎
‎Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Pertemuan Lintas Sektor dan Lintas Program dalam rangka Penguatan Integrasi Penanganan HIV, AIDS, Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS), malaria, dan hepatitis melalui Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP) di Kota Pangkalpinang.
‎
‎Kegiatan yang berlangsung di Grand Safran Hotel, Selasa (3/11/2026), dihadiri langsung Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna. Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui Zoom Meeting.
‎
‎Dalam kesempatan itu, Dessy Ayutrisna menegaskan bahwa penanganan penyakit menular tidak bisa hanya dibebankan kepada fasilitas pelayanan kesehatan. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), kader, organisasi masyarakat, yayasan, hingga komunitas.
‎
‎”Hari ini kita kegiatannya adalah ketemuan Lintas Sektor dengan program dan organisasi penguatan strategis tentang ATMH, AIDS, Tuberculosis, Malaria dan Hepatitis,” ujar Dessy.
‎
‎Menurutnya, pertemuan tersebut bertujuan memperkuat koordinasi dan peran masing-masing sektor dalam mendukung program penanganan penyakit menular di Kota Pangkalpinang.
‎
‎”Tujuan kegiatannya penguatan Lintas Sektor, di sini banyak opd kader-kader organisasi yang terkait dengan ATMH ini dan akan mendapatkan beberapa materi dari narasumber untuk penguatan di kota Pangkalpinang,” jelasnya.
‎
‎Dessy juga menekankan pentingnya keterlibatan mitra dan komunitas dalam menjalankan program pencegahan maupun penanganan. Setiap sektor diharapkan dapat berkontribusi sesuai tugas dan bidang masing-masing, termasuk melalui dukungan program dan penganggaran.
‎
‎”Ya, tadi misalnya melakukan program-program sesuai dengan bidangnya, bidang AIDS dibantu oleh mitra-mitra, ada apa, ada yayasan, ada komunitas, Kemudian buat anggaran juga, yang dari bidang-bidang lain, dari bidang Malaria, segala macam,” ungkapnya.
‎
‎Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah memiliki target Three Zero (3-0) pada 2030 sebagaimana menjadi sasaran program Kementerian Kesehatan. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan langkah nyata, kesinambungan program, serta kolaborasi antara pemerintah dan seluruh mitra terkait.
‎
‎”Ya, itu dengan program-program. Beberapa program yang dilakukan oleh Lintas Sektor dibantu dengan mitra-mitranya dan kami saling berkolaborasi,” katanya.
‎
‎Di akhir penyampaiannya, Dessy mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan lingkungan keluarga. Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan dini agar penyakit dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
‎
‎”Himbaunya, tetap jaga kesehatan, lindungi diri sendiri, lindungi keluarga, dan lindungi orang lain, deteksi dini dan tentu harus berobat,” tutup Dessy.
‎
‎Tingginya angka kasus HIV di Pangkalpinang menjadi pengingat bahwa penanganan penyakit menular membutuhkan perhatian serius dan kerja bersama. Penguatan edukasi, pemeriksaan dini, penghapusan stigma dan diskriminasi, serta kemudahan akses pengobatan perlu berjalan beriringan agar upaya pengendalian penyakit dapat mencapai hasil maksimal.