Dosen UBB mendorong Penerapan Smart Farming untuk Tingkatkan Produksi Padi Ladang Lokal Bangka

Laporan Baim

DESA PAYAKBENUA,PSOBERNAS – Upaya meningkatkan produktivitas padi ladang lokal Bangka terus dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian yang ramah lingkungan. Akademisi dan mahasiswa dari Universitas Bangka Belitung serta, petani, dan kelompok tani di Desa Paya Benua, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, mengembangkan budidaya padi ladang dengan memadukan pengendalian hama secara alami dan teknologi smart farming. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIKTI 2026 dengan tema “Upaya Peningkatan Hasil Padi Ladang Lokal Bangka dengan Penerapan Smart Farming untuk Pengendalian Hama Utama Tanaman”. Kegiatan pada Rabu, 7 Oktober 2026, difokuskan pada sosialisasi budidaya padi, pengenalan teknologi smart farming, pengendalian hama ramah lingkungan, pengukuran kesuburan tanah, serta penanaman padi bersama masyarakat.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menghadirkan PPL desa Paya benua, Ketua Gaboktan, Ketua Kelompok Tani mandiri dan Anggota dari kelompok tani Mandiri. Ibu Yulia Fitriana, SP PPL Desa Paya Benua terus aktif mendampingi kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan dari tahun 2025 dengan pendanaan dari kemensaintek DIKTI. Pada kegiatan tahun 2025 telah dihasilkan produk beras merah benua cemerlang yang telah dipasarkan secara online memalui media sosial dan akun penjualan.

Ketua tim PKM, Prof. Dr. Eries Dyah Mustikarini, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa penerapan teknologi dalam kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu petani memperoleh informasi kondisi lahan secara lebih cepat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia dalam pengendalian hama.

“Penerapan teknologi smart farming adalah solusi cerdas untuk mengatasi serangan organisme pengaggu tanaman (OPT) seperti burung dan tikus yang selama ini sulit dikendalikan dan menimbulkan kerugian bagi petani. Selain itu pengunaan sensor 7-in-1 Soil sangat diperlukan untuk mendeteksi sifat kimia tanah yang penting agar petani dapat memberikan pemupukan berimbang dan penghematan dalam pembelian pupuk” jelasnya.

Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengendalian hama tikus yang menjadi salah satu permasalahan dalam budidaya padi ladang. Tim PKM memperkenalkan teknologi pengendalian hama yang memanfaatkan frekuensi gelombang ultrasonik tertentu untuk membantu mengganggu aktivitas tikus di sekitar areal pertanaman. Teknologi tersebut menjadi bagian dari pendekatan smart farming yang dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap metode pengendalian hama yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

Dr. Tri Lestari, SP, M.Si dosen Agriteknologi UBB, juga menjelaskan pengendalian hama juga dilakukan melalui pendekatan alami dengan memanfaatkan tanaman yang tersedia di lingkungan sekitar. Buah bintaro dan kayu naga diperkenalkan sebagai bahan yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengendalian hama secara ramah lingkungan. Penanaman pohon bintaro turut dilakukan dalam kegiatan tersebut.

Keberadaan tanaman tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan ekosistem pertanian sekaligus mendukung upaya pengendalian hama secara lebih berkelanjutan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian organisme pengganggu tanaman tidak harus bergantung pada satu metode. Petani dapat mengombinasikan teknologi, bahan alami, pengelolaan lingkungan, dan pemantauan kondisi pertanaman sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Muhammad Fauzan Ridho, ST, MT selaku anggota kegiatan pengabdian masyarakat dari Program Studi Elektro memperkenalkan inovasi lain dalam kegiatan tersebut adalah penggunaan sensor otomatis untuk mengukur kondisi kesuburan tanah. Alat tersebut digunakan untuk memperoleh informasi kondisi tanah secara lebih cepat sehingga petani dapat mengetahui keadaan lahan sebagai dasar dalam menentukan pengelolaan budidaya.

Data hasil pengukuran dapat dipantau melalui handphone. Sistem tersebut memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh informasi tanpa harus melakukan pengukuran secara manual setiap saat. Pemanfaatan sensor diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan karena keputusan pemupukan dan pengelolaan tanaman dapat diarahkan berdasarkan data kondisi tanah. Pendekatan berbasis data tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan smart farming pada budidaya padi ladang lokal Bangka.

Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Akademisi, mahasiswa, petani, dan anggota kelompok tani terlibat langsung dalam kegiatan penanaman padi di Desa Paya Benua. Keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi bagian penting dalam program karena teknologi yang diperkenalkan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan petani. Melalui praktik lapangan, petani dapat melihat secara langsung cara penerapan teknologi dan metode budidaya yang diperkenalkan oleh tim PKM.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang diskusi antara akademisi dan petani mengenai permasalahan budidaya padi ladang, khususnya terkait serangan hama, kondisi tanah, dan kebutuhan teknologi yang dapat diterapkan secara praktis di tingkat petani. Tim PKM bersama kelompok tani juga membahas tindak lanjut kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap berikutnya. Pendampingan berkelanjutan diharapkan dapat memastikan teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dan dievaluasi di lahan petani.

Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi petani sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola budidaya padi berdasarkan informasi dan teknologi. Pengembangan padi ladang lokal Bangka melalui pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan hasil produksi, efisiensi pengelolaan lahan, serta penerapan sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.