Terjadi Sebuah Bentrokan antarwarga pecah di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan

Laporan Jurnalis : Ayub Asso

Wamena, Jayawijaya ,Pos Berita Nasional – Senin, 19 Januari 2026 Terjadi sebuah Bentrokan antar warga pecah di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Senin (19/1/2026), Bentrokan terjadi ini akibat belum tuntasnya penyelesaian adat atas kasus pembunuhan seorang pria dari Suku Yali yang terjadi pada Desember 2025 lalu.

Pada hari Senin tanggal 19 Januari 2026, Pukul 17.50 WIT Bertempat di Perempatan Tugu Salib Jl. Yossudarso Distrik Wamena Kab. Jayawijaya Prov. Papua Pegunungan telah terjadi Aksi saling serang antar suku Yali dengan Suku Lani,
Adapun Kronologis kejadian Sbb.
Pukul 17.30 WIT Mediasi Penyelesaian Masalah terkait pembunuhan terhadap Alm. Fiktor Pahabol/Suku Yali, yang terjadi tanggal 25 November 2025 di depan Gereja GPDI-Elshadai.

Kericuhan bermula dari proses penyesuaian masalah (penyelesaian adat) antara pihak keluarga korban dan pihak pelaku yang berlangsung di sekitar Kantor Bupati Jayawijaya.

Dalam pertemuan tersebut, pihak keluarga korban tetap menuntut pembayaran kepala sebesar Rp 20 miliar sebagai syarat perdamaian.

Namun, pihak pelaku hanya mampu memenuhi tuntutan dalam jumlah yang lebih kecil dari nilai yang diminta. Perbedaan tuntutan inilah yang memicu ketegangan. Adu mulut terjadi, situasi memanas, hingga akhirnya berujung bentrokan fisik.

Kericuhan kemudian meluas dari area Kantor Bupati Jayawijaya dan bergeser ke kawasan Pasar Misi, Wamena. Hingga Senin malam, situasi di sekitar Pasar Misi masih mencekam.

Sejumlah massa dilaporkan melakukan pemalangan jalan dan berjaga di beberapa titik dengan menggunakan anak panah serta senjata tradisional.
Akibat bentrokan tersebut, aktivitas warga terganggu. Sebagian pedagang memilih menutup kios lebih awal, sementara arus lalu lintas di sekitar Pasar Misi lumpuh karena pemalangan jalan.

Aparat keamanan dari TNI dan Polri dikerahkan untuk mengamankan situasi dan mencegah meluasnya konflik. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih melakukan patroli dan upaya pendekatan persuasif kepada kedua belah pihak.

Pemerintah daerah Jayawijaya mengimbau seluruh masyarakat agar menahan diri dan tidak terprovokasi. Pemda juga berjanji akan memfasilitasi kembali proses penyelesaian secara damai agar konflik adat ini tidak berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penyelesaian konflik secara adil dan cepat, agar tidak menimbulkan dampak sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.