Mahasiswa ISNJ Bengkalis Bedah Perilaku Konsumtif Lewat Lensa Literasi Keuangan Syariah

Laporan Jurnalis : Dody Saputra

BENGKALIS – Di tengah gempuran tren digital yang memanjakan jemari, mahasiswa Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis mengangkat sebuah fenomena kontemporer yang marak di kalangan generasi muda: “Pengaruh Paylater 0% dan Live Shopping Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa dengan Moderasi Literasi Keuangan Syariah.”

Menurut mahasiswa ISNJ Rahma Darwina yang melakuka Penelitian ini berangkat dari kegelisahan yang terjadi di kalangan mahsiswa serta akademis melihat masifnya promosi layanan paylater dengan iming-iming bunga 0% serta daya tarik interaktif live shopping di berbagai platform e-commerce yang selalu tampil di medsos.

Kombinasi keduanya dinilai menciptakan ilusi kemudahan finansial yang membuat mahasiswa kerap terjebak dalam pembelian impulsif atau bertindak secara spontan di luar skala kebutuhan prioritas. Jadi hal seperti ini menjadi promosi digital,keduanya mahasiswa ISNJ Bengkalis ini menyoroti bagaimana skema paylater bunga 0% sering kali mengecoh konsumen.

Menurutnya lagi meskipun tampak ringan tanpa tambahan bunga di awal, keberadaan biaya layanan, denda keterlambatan, hingga dorongan psikologis dari host live shopping,yang menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) dan urgensi semu,berpotensi menggeser pola pikir dari rasional menjadi hedonis, namun, yang menjadi daya tarik utama dari penelitian ini adalah bagaimana peneliti memposisikan literasi keuangan syariah sebagai variabel moderasi.ucapnya.

Literasi Keuangan Syariah sebagai “Benteng” Kontrol Hasil sementara maupun landasan konseptual dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya terpaan godaan digital tidak otomatis berujung pada perilaku konsumtif yang destruktif, asalkan dibentengi oleh pemahaman literasi keuangan syariah yang baik. Ungkapnya lagi.

Peneliti berharap mahasiswa yang memiliki pemahaman memadai mengenai konsep kemaslahatan, larangan berlebih-lebihan, serta manajemen risiko utang dalam Islam, terbukti lebih mampu bersikap selektif,mereka dapat membedakan antara needs (kebutuhan) dan wants (keinginan), serta lebih berhati-hati dalam memanfaatkan produk pembiayaan digital meskipun dikemas dengan label bebas bunga atau 0%. Dan berharap hasil penelitiannya menjadi kontribusi akademis bagi Generasi Muda Melalui terkhususnya civitas akademika ISNJ Bengkalis serta dapat memberikan warning sekaligus panduan praktis bagi generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa di Kabupaten Bengkalis dan sekitarnya.

Literasi keuangan syariah dinilai bukan sekadar pengetahuan teoretis di ruang kuliah, melainkan kecakapan hidup (life skill) yang mendesak di era disrupsi finansial saat ini. Riset ini sekaligus mempertegas peran ISNJ Bengkalis sebagai kampus berbasis nilai-nilai Islam yang responsif terhadap dinamika sosial-ekonomi digital masyarakat modern.

Kemudian menurut Dosen Pembimbing Bapak Dr.Zul Hendri memberikan apresiasi tinggi terhadap penelitian terbaru yang dilakukan oleh mahasiswa bimbingannya mengenai fenomena ini melalui sudut pandang nilai-nilai religius.

Penelitian yang di lakukan tentang Perilaku Konsumtif Lewat Lensa Literasi Keuangan Syariah ini membedah bagaimana pemahaman prinsip keuangan syariah dapat menjadi benteng pertahanan moral dan finansial bagi mahasiswa agar tidak terjebak dalam budaya hedonisme. Imbunya lagi penelitian dan riset ini sangat relevan dengan realitas sosiologis mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa yang belum bisa membedakan antara kebutuhan (kebutuhan esensial) dan keinginan (keinginan impulsif), yang sering kali berujung pada perilaku tabzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan).

Menurutnya lagi melalui lensa literasi keuangan syariah, mahasiswa diajarkan bahwa harta bukan sekadar alat pemuas keinginan, melainkan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Pemahaman yang baik tentang Maqashid Syariah (tujuan syariat) dalam aspek harta akan mengubah cara pandang mereka dalam membelanjakan uang, ucapnya.
Ia juga menambahkan beberapa kunci mahasiswa dalam melakukan penelitian yaitu bukan sekadar teori, literasi keuangan syariah terbukti mampu menekan gaya hidup konsumtif jika diimplementasikan dalam kebiasaan sehari-hari, seperti mengutamakan produk halal dan menghindari transaksi yang mengandung unsur riba atau ketidakjelasan, peran teknologi finansial yang kemudahan fitur seperti PayLater dan pinjaman online sering kali menjadi pemicu utama,disinilah etika keuangan syariah hadir sebagai kontrol diri.kemidian rekomendasi kebijakan kampus penelitian ini harus merekomendasikan perlunya edukasi keuangan syariah yang lebih praktis di lingkungan universitas.

Zul Hendri berharap hasil penelitian mahasiswa ini tidak hanya menjadi arsip di kampus dan peneliti saja, melainkan dapat menjadi panduan edukasi nyata di masyarakat. pungkasnya.