Laporan Pian
PANGKALPINANG,POSBERNAS — Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pangkalpinang, Mie Go, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya mewujudkan target “Ending AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria (ATM) Tahun 2030”. Hal ini disampaikannya saat menghadiri pertemuan penguatan Forum Kemitraan terhadap Sektor Swasta dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Non Kesehatan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (PP ATM) di Sun Hotel Pangkalpinang, Selasa (11/11/2025).
Dalam sambutannya, Mie Go menekankan bahwa pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat masyarakat.
“Kesehatan adalah investasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, upaya kesehatan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang menekankan percepatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan dan peran serta masyarakat.
Lebih lanjut, Mie Go mengungkapkan bahwa sejak tahun 2003 hingga 2023, Indonesia telah menerima dukungan dari The Global Fund sebesar USD 1,45 miliar atau sekitar Rp20,89 triliun untuk mengatasi masalah AIDS, TBC, dan Malaria. Dana tersebut, katanya, telah menyelamatkan lebih dari 20 juta jiwa di kawasan Indo-Pasifik dan mencegah 146 juta infeksi baru sejak 2012.
“Pendanaan Global Fund ini sangat penting dalam menyediakan obat-obatan, layanan konseling, pelatihan tenaga medis, hingga peningkatan fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Mie Go menegaskan, Indonesia menargetkan penurunan angka kejadian TBC menjadi 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat TBC menjadi 6 per 100.000 penduduk pada 2030, sesuai Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Selain itu, Indonesia juga menargetkan minimal 405 kabupaten/kota mencapai eliminasi malaria pada 2024 dan seluruh wilayah bebas malaria pada 2030.
“Upaya pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria tidak bisa hanya dilakukan sektor kesehatan. Ini memerlukan peran lintas sektor, termasuk sektor swasta, lembaga sosial, dan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Kementerian Kesehatan juga telah menekankan pentingnya kemitraan efektif di daerah dalam penanggulangan ATM.
Ia menyoroti, Indonesia saat ini masih menjadi salah satu dari tiga negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia, disertai kompleksitas epidemi HIV/AIDS serta stagnasi penurunan kasus malaria. Kondisi ini, katanya, menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.
“Dengan kemajuan teknologi dan informasi, seharusnya penyakit seperti AIDS, TBC, dan Malaria tidak lagi menjadi ancaman besar. Namun karena kompleksitas penyebabnya, diperlukan penanggulangan yang komprehensif, terpadu, dan berkelanjutan,” tutur Mie Go.
Ia mendorong kemitraan strategis antara pemerintah daerah dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), Baznas, serta berbagai organisasi penggiat ATM untuk memperkuat pendanaan dan dukungan masyarakat.
“Dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor non-kesehatan, akan sangat menentukan keberhasilan Pangkalpinang mencapai target ending AIDS, TB, dan Malaria tahun 2030,” katanya menutup sambutan.
Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor di Kota Pangkalpinang dalam mendukung upaya nasional menuju Indonesia sehat dan bebas penyakit menular.
