Laporan Baim
PANGKALPINANG,POSBERNAS – Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Soc.Sc., Ph.D., menghadiri Rapat Terbuka Senat dalam rangka Wisuda XXXVII Program Sarjana dan Magister Universitas Bangka Belitung (UBB) Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Balai Utama De Universitaria, Kampus Terpadu UBB, Rabu (29/7/2026).
Dalam prosesi tersebut, Universitas Bangka Belitung secara resmi mengukuhkan 431 lulusan yang berasal dari lima fakultas. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri sivitas akademika, orang tua wisudawan, serta berbagai unsur pemerintahan dan mitra universitas.
Rapat Terbuka Senat dipimpin Ketua Senat Universitas Bangka Belitung, Dr. Aimie Sulaiman, M.A., didampingi Rektor UBB, Prof. Dr. Ibrahim, M.Si. Hadir pula anggota senat universitas, jajaran pimpinan UBB, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, mitra kerja sama, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Rektor UBB Prof. Dr. Ibrahim menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Prof. Yusril Ihza Mahendra atas kesediaannya menghadiri Wisuda XXXVII UBB. Menurutnya, kehadiran Menko Yusril menjadi kehormatan sekaligus kebanggaan bagi seluruh keluarga besar Universitas Bangka Belitung.
Ia meyakini orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Yusril akan menjadi bekal berharga bagi para lulusan untuk terus berkarya, menjunjung tinggi integritas, serta mengabdikan ilmu pengetahuan demi kemajuan masyarakat, daerah, bangsa, dan negara.
Pada Wisuda XXXVII ini, UBB meluluskan 170 mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 86 lulusan Fakultas Sains dan Teknik (FST), 70 lulusan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (FPPK), 60 lulusan Fakultas Hukum (FH), serta 45 lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Dari keseluruhan lulusan tersebut, sebanyak 81 wisudawan berhasil meraih predikat cum laude sebagai bentuk penghargaan atas prestasi akademik selama menjalani pendidikan di Universitas Bangka Belitung.
Sementara itu, lulusan terbaik tingkat universitas diraih oleh Reinhard Siahaan dari Fakultas Hukum dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Adapun lulusan terbaik masing-masing fakultas yaitu Erika Syafitri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan IPK 3,93, Miftah Fadhilah dari Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan dengan IPK 3,96, Juniarti dari Fakultas Sains dan Teknik dengan IPK 3,92, serta Riyadus Soleha dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan IPK 3,83.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Yusril menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab sebagai seorang sarjana untuk memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengatakan, ijazah bukan merupakan jaminan bahwa seseorang akan memperoleh pekerjaan ataupun bahwa negara memiliki kewajiban menyediakan pekerjaan bagi para lulusan. Menurutnya, ijazah adalah bukti dari investasi ilmu pengetahuan yang telah dibangun selama menempuh pendidikan dan harus diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat.
“Kita hidup pada zaman yang penuh paradoks. Generasi muda memiliki akses yang begitu luas dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, pada saat yang sama kita menghadapi ketidakpastian yang lebih besar. Pengetahuan berubah begitu cepatnya, jenis-jenis pekerjaan pun dapat hilang tanpa kita duga. Kecerdasan buatan dapat membantu menulis, menghitung, menerjemahkan.” kata Prof. Yusril.
Menurutnya, kemajuan teknologi membuat pengetahuan berkembang sangat cepat, bahkan sejumlah jenis pekerjaan dapat hilang seiring perubahan zaman.
“Kita hidup pada zaman yang penuh paradoks. Generasi muda memiliki akses yang begitu luas dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, pada saat yang sama kita menghadapi ketidakpastian yang lebih besar. Pengetahuan berubah begitu cepatnya, jenis-jenis pekerjaan pun dapat hilang tanpa kita duga. Kecerdasan buatan dapat membantu menulis, menghitung, menerjemahkan, merancang, dan menganalisis. Akan tetapi, teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral manusia,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Yusril menekankan bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus dibekali integritas, etika, kepedulian sosial, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Prosesi Wisuda XXXVII berlangsung dengan penuh khidmat dan menjadi momen membanggakan bagi para lulusan beserta keluarga mereka. Pengukuhan 431 lulusan tersebut menandai keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi sekaligus menjadi awal perjalanan untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi di berbagai bidang profesi.
