Laporan Baim
PANGKALPINANG,POSBERNAS – Upaya mengungkap insiden tabrak lari yang melibatkan sebuah kapal tongkang terhadap empat kapal nelayan di Perairan Pido, Bangka Bagian Utara, terus dilakukan. Sebanyak 10 nelayan korban yang selamat, didampingi Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka, mendatangi Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Dit Polairud) Polda Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (17/7/2026).
Kedatangan para nelayan tersebut untuk membuat laporan pengaduan kepada pihak kepolisian agar keberadaan kapal tongkang yang diduga menabrak empat kapal nelayan hingga menyebabkan dua orang hilang dapat segera diungkap.
Laporan itu juga diharapkan menjadi langkah awal dalam proses penyelidikan guna mengidentifikasi kapal tongkang beserta pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi pada Minggu (12/7/2026) dini hari di Perairan Pido.
Salah seorang nelayan korban yang turut membuat laporan berharap aparat kepolisian dapat bergerak cepat mengusut kasus tersebut.
“Kami datang melapor agar kejadian ini benar-benar ditindaklanjuti. Kami kehilangan rekan, kapal rusak, dan sampai hari ini dua teman kami masih belum ditemukan. Harapan kami, kapal tongkang yang menabrak segera ditemukan dan pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum,” ujarnya.
Sementara itu, proses pencarian terhadap dua nelayan yang masih hilang hingga hari keenam operasi SAR terus dilakukan oleh tim gabungan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang, Fazzli S.A.P., M.Si, mengatakan hingga Jumat (17/7/2026) pukul 15.00 WIB, pencarian masih berlangsung dengan melibatkan Kantor SAR Tanjungpinang dan Kantor SAR Pangkalpinang.
“Untuk perkembangan operasi SAR, dua orang nelayan yang masih hilang di Perairan Bangka Utara, pencarian yang dilakukan pada hari ke-6 ini sampai dengan pukul 15.00 WIB dilakukan oleh tim SAR gabungan yang melibatkan Kantor SAR Tanjungpinang dan Kantor SAR Pangkalpinang dengan melakukan monitoring melalui e-Broadcast yang dipancarkan kepada seluruh kapal yang melintas di Perairan Bangka Utara,” kata Fazzli saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Jumat (17/7/2026).
Selain penyebaran informasi melalui e-Broadcast, Basarnas juga melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat maritim di sejumlah wilayah.
“Kemudian kita juga melakukan pemapelan melalui SROP di Dabo Singkep dan di Bangka,” ujarnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, hingga Jumat sore belum ada informasi mengenai keberadaan dua korban yang masih dinyatakan hilang.
“Sampai saat ini belum ada informasi penemuan korban dan pencarian di lokasi masih juga dilakukan oleh nelayan-nelayan yang saat ini masih berada di sekitar lokasi untuk melakukan pencarian ikan,” tambahnya.
Fazzli menegaskan Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan akan terus melanjutkan operasi pencarian hingga kedua nelayan tersebut ditemukan.
“Basarnas akan terus mengupayakan pencarian sampai kedua korban ditemukan,” tegasnya.
Diketahui, kecelakaan laut tersebut terjadi pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 01.00 WIB ketika empat kapal nelayan sedang mencari cumi-cumi di Perairan Pido. Saat itu kapal-kapal dalam kondisi berhenti dengan jangkar diturunkan, genset menyala, dan lampu penerangan aktif. Namun, sebuah kapal tongkang tiba-tiba datang dari jarak dekat dan menabrak keempat kapal tersebut sebelum meninggalkan lokasi menuju arah selatan.
Akibat insiden itu, sebanyak 12 nelayan berhasil diselamatkan, sementara dua awak KM Jelajah 1, yakni Yudi Kurnia dan Andika, hingga kini masih dalam pencarian. Kasus tersebut kini tidak hanya menjadi fokus operasi kemanusiaan Basarnas, tetapi juga telah memasuki proses penanganan hukum setelah para korban secara resmi melaporkannya ke Dit Polairud Polda Kepulauan Bangka Belitung.
