“Mati Obor” Jangan Sampai….

Artikel Redaksi : Bams

Dalam Istilah Betawi “mati obor” berarti terputusnya silaturahmi dan hilangnya pengetahuan tentang silsilah keluarga karena generasi muda tidak lagi meneruskan tradisi dan hubungan kekeluargaan setelah sesepuh tiada. Istilah ini melambangkan padamnya nyala api obor, yang melambangkan keberlangsungan tali persaudaraan dan ikatan keluarga yang harus terus dijaga.

Istilah “Matinya obor” adalah konsep untuk menjelaskan ketika hubungan kekerabatan tak lagi terdeteksi karena jarang berhubungan. Jadi obor itu sudah mati, obor untuk menerangi keberadaan kerabat.

Ini ilustrasinya saja. Satu ketika kita silaturahmi pada saudara sepupu. Kebetulan adalah anak dari paman Ketika Kami bicara ke sana ke mari. Sampai di satu titik saya bertanya tentang kerabat dari ibu saudara sepupu kami itu.

Dia mengatakan bahwa saudara-saudara ibunya adalah orang yang secara jarak geografis bisa dibilang jauh. Karena itu, sejak dahulu jarang sekali bertemu dan berkomunikasi. Kini ketika teknologi sudah maju, tetap saja kesulitan melacaknya. Istilah “Wis kepaten obor (sudah mati obornya),” kata saudara sepupu .

Fenomena seperti ini memang sering terjadi ketika kerabat hidup di daerah yang jauh. Apalagi, mereka berpisah sudah 40 tahunan lampau. Makin sulit terdeteksi. Walaupun memang sebagian ada yang terdeteksi melalui aplikasi pertemanan di dunia maya.

Nah, itu adalah “matinya obor” karena jarak yang jauh. Menurut kami “matinya obor” ini juga bisa terjadi sekalipun jarak geografisnya dekat. Sebab, memang jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing.

Kini, generasi tiga level di atas pun sudah banyak yang tak bisa menjelaskan. Misalnya siapa saudara dari buyut Anda. Buyut dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah ibu dari nenek.

Siapa saja saudara dari buyut Anda dan siapa keturunannya. Ada di mana saja mereka? Kemungkinan sebagian dari Anda sudah tidak tahu. Apakah itu salah? Saya tak mau membatasi pembahasan ini hanya sebagai benar atau salah.

Untuk meminimalisir potensi “matinya obor”, orang tua zaman dahulu sering membawa anaknya ketika silaturahmi. Kamipun dulu sering diajak ketika orangtua silaturahmi ke kerabat.

Langkah mengajak anak itu dilakukan agar sang anak tahu siapa saja saudaranya atau bahkan siapa saja guru dan teman orangtuanya. Maka hubungan itu berlanjut sampai ke anak.

Namun, kami sering melihat (bahkan pada diri saya sendiri) fenomena mengajak anak bersilaturahmi itu terkadang sudah pudar. Tapi perlu digarisbawahi bahwa kesimpulan itu hanya dari yang kami lihat. Bisa jadi di tempat lain tidak seperti itu.

Jadi, anak kadang jarang diajak kala bersilaturahmi. Anak lebih sering diajak ketika bertamasya. Orangtua saat ini, justru kebingungan mau mengajak ke kerabat jauh yang mana karena memang sebagian sudah kesulitan melacak kerabat.

Satu faktor yang mungkin membuat sebagian kita sulit mendeteksi kerabat atau bersilaturahmi karena kesibukan. Sibuk kerja, kerja, kerja.

Kalau sudah kerja, sampai di rumah capek. Jangankan silaturahmi, untuk pertemuan RT malam hari saja sebagian dari kita malas karena memang sudah capek.

Nah, saat ini adalah kesempatan untuk bisa melacak hubungan kekerabatan itu. Dunia makin maju dan, bisa dilacak siapa kerabat level tiga ke atas kita. Siapa tahu ketemu dan kita bisa berhubungan dengan mereka.

Kita bisa melakukan kerja sama yang positif. Kerja sama itu sama sama bekerja ya. Bukan yang satu jadi tuan dan yang lain jadi budaknya. Atau setidaknya kembali membangun silaturahmi. Semakin banyak saudara semakin baik.

Jika ada yang terdeteksi sedang terkena musibah, maka kerabat bisa membantu baik dengan doa atau dana atau dijenguk. Jadi, ada kemanfaatan positif dari hubungan itu.

Tapi, tolong digaris bawahi, bahwa hubungan kekerabatan itu untuk silaturahmi dan hal lain yang baik, jangan dijadikan sebagai tempat mengutang.

Kalau mencari kerabat hanya untuk mengutang, ya kasihan kerabatnya. Didatangi hanya untuk diutangi. Itu salah satu yang membuat munculnya persepsi negatif pada kerabat karena kalau datang hanya minta utang.

Demikian lah tali persaudaraan & silaturrahmi kita jaga sampai kapanpun jangan sampai ada istilah “Mati Obor” Setidaknya, generasi penerusnya tahu asal-usulnya, bahwa mereka berasal dari keturunan orang baik dan keturunan dari orang sholeh. Dari bibit yang baik, akan menumbuhkan dan melahirkan keturunan yang baik pula.

Itulah sebabnya, perlunya kita mencatat silsilah keluarga, agar mengetahu siapa nenek moyangnya, tidak melupakan generasi pendahulunya. Boleh jadi engkong atau nenek kita adalah seorang pejuang yang layak menyandang gelar Pahlawan. (*)

Penulis : Bams
Editor Redaksi